Baru-baru ini gw lagi baca 1 buku. Kategorinya inspirasional (menurut gw) berjudulkan Everest in Your Life. Pengarangnya bernama Gary dan baru masuk ke bab 3. Eh, sebelumnya gw inget kalo gw lom kasih penjelasan kenapa gw enggak pake bahasa Inggris.Eh, ga perlu? Ya udah deh. Gw mau pengumuman !! (duh maksa banget sich..?) Hari ini gw males banget nyusun sentence, so daripada repot ya mending pake bahasa ibu aja dech (^_^… dah ketebak ya?!)
Btw, this book yang lagi aku baca itu ngisahin tentang seorang cowok, asal Australia yang berusaha menaklukkan Everest dan udah berhasil menaklukan Everest. Yang hebat dari buku ini menurutku adalah filosofinya yang luar biasa. Bahkan buat gw yang cuma sedikit menggemari naik gunung dan sama sekali enggak getol panjat tebing. Pengalaman pertama dan terakhir gw nyoba ikut panjat tebing adalah di wall WAPALHI dan cuma berhasil naik sampai 3 m sebelum terbanting ke bawah. And that’s it!
Hanya saja begitu aku baca buku ini aku jadi merasa betapa hidup tidak harus dimaknai dengan apa yang ada didepan mata. Kadang-kadang hidup bisa berbicara kepada kita tentang kiasan-kiasan yang maknanya baru kita tangkap 2 – 3 tahun, atau bahkan seumur hidup kita kedepan. Hidup selalu bisa memutarbalikkan pandangan kita yang dangkal dan membawa kita ke sebuah tahapan dalam hidup, entah naik atau turun (ciee… sok filosofis ni yee).
Socrates Cafee yang lagi kubaca berbarengan dengan Everest in Your Life lagi membawa kebingungan tersendiri. Habisnya, terlalu filosofis. Terlalu abstrak. Mungkin emang belum nyampe kesana kali ye?! But, it’s worth time to read. Kita cuma harus mengendapkan dalam hati. Coz, maybe one day, I’ll be able to understand it better.
Bab III, Everest in Your Life yang aku baca ini menyisakan 1 hal yang menarik. Cobalah untuk bertualang dengan lebih sedikit beban. Baik itu petualangan secara spiritual maupun fisik, coba untuk membawa lebih sedikit barang / beban, dan nikmatilah 1 cara hidup yang berbeda. Yang lebih menantang dan lebih mengesankan. Yang tidak terlalu terlindungi dengan segala “tapi”, “kalau” dll. This is easy to hear, ‘hard to do’ stuff. Btw, aku merasa bahwa ide-nya patut dicoba dan dipraktekkan. Aku belum bisa sih, cuma aku bayangin mungkin hidup akan lebih nyaman that way.
Any comment?